Scroll untuk baca artikel
banner 468x60
Example floating
Example floating
banner 468x60
Regional

MMN Papua Pegunungan Bawa Perspektif Hulu Maritim ke MPR RI: “Laut Sehat Dimulai dari Sungai di Pegunungan”

Avatar photo
44
×

MMN Papua Pegunungan Bawa Perspektif Hulu Maritim ke MPR RI: “Laut Sehat Dimulai dari Sungai di Pegunungan”

Sebarkan artikel ini

JAKARTA | AFJ-News.online — Dewan Pimpinan Daerah Maritim Muda Nusantara (DPD MMN) Papua Pegunungan membawa perspektif berbeda dalam audiensi bertajuk “Suara Muda untuk Laut Indonesia: Menyatukan Gagasan, Menguatkan Masa Depan Maritim” bersama Wakil Ketua MPR RI Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc., di Ruang Rapat Pimpinan Lantai 9, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2026). Edhie Baskoro Yudhoyono tercatat sebagai Wakil Ketua MPR RI periode 2024–2029.

Audiensi tersebut, berdasarkan keterangan MMN Papua Pegunungan, merupakan tindak lanjut Surat Undangan Nomor B-799H/PT.04/B-VII/SetjenMPR/09/2026 yang ditujukan kepada Ketua Umum Maritim Muda Nusantara untuk menugaskan lima orang perwakilan mengikuti forum dialog pemuda maritim.

Forum membahas sejumlah isu, antara lain ekonomi biru, persoalan sampah laut, keberlanjutan ekosistem, serta masa depan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada wilayah perairan.

Namun, DPD MMN Papua Pegunungan memilih membawa satu perspektif yang menurut mereka belum banyak mendapat perhatian dalam pembicaraan mengenai pembangunan maritim nasional, yakni hubungan antara kawasan pegunungan, sungai, pesisir dan laut atau “perspektif hulu maritim”.

Ketua DPD Maritim Muda Nusantara Papua Pegunungan, Yonas Marian, S.T., CBEc., mengatakan persoalan laut tidak semestinya dilihat hanya dari wilayah pesisir. Situs resmi Maritim Muda Nusantara juga mencantumkan Yonas Marian sebagai Ketua Daerah Papua Pegunungan.

Menurut Yonas, sungai-sungai yang berhulu di kawasan pegunungan memiliki hubungan langsung dengan kualitas ekosistem perairan di bagian hilir.

Baca Juga :  Aksi Solidaritas Dalam Kasus Intimidasi Wartawan Diproyek Musholla RSUD Balaraja

Ia mengutip materi dalam Terms of Reference (ToR) audiensi yang menyinggung persoalan sampah laut yang berasal dari daratan serta dampaknya terhadap aktivitas nelayan.


“Pertanyaannya, daratan yang mana? Daratan itu bermula dari gunung kami. Laut Indonesia tidak akan sehat jika sungai-sungai di gunung rusak. Kami dari puncak adalah penjaga pertama laut,” ujar Yonas dalam forum tersebut.


Dorong Perspektif Hulu dalam Pembangunan Maritim

Yonas menjelaskan, Papua Pegunungan memiliki jaringan sungai yang menurut MMN perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembicaraan pembangunan maritim Indonesia Timur.

Ia menyinggung Sungai Baliem, Brazza, serta sejumlah aliran sungai lainnya yang menghubungkan wilayah pegunungan dengan kawasan dataran rendah dan ekosistem perairan di Papua bagian selatan.

Karena itu, menurut dia, perlindungan kawasan hulu tidak hanya menyangkut kepentingan masyarakat pegunungan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas air, sedimentasi, ekosistem pesisir, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian pada sungai dan laut.

MMN Papua Pegunungan juga melihat sektor pertanian di Lembah Baliem sebagai bagian yang berpotensi dihubungkan dengan sistem logistik nasional.

Berbagai komoditas pertanian dataran tinggi seperti kentang, kubis, wortel serta buah merah, menurut organisasi tersebut, memiliki peluang untuk masuk dalam mata rantai logistik yang lebih luas apabila didukung konektivitas, energi dan fasilitas penyimpanan yang memadai.

Soroti Konektivitas Hulu-Hilir dan Ketersediaan Energi

Dalam audiensi tersebut, MMN Papua Pegunungan turut menyampaikan dua persoalan yang mereka nilai masih menjadi tantangan utama di kawasan pegunungan.

Baca Juga :  Buka Rakor Penanggulangan HIV/AIDS, Wabup Intan Tandaskan Pentingnya Jaga Keberlanjutan dan Kesinambungan Layanan HIV/AIDS

Pertama adalah keterputusan konektivitas antara kawasan hulu dan hilir. Yonas berpandangan kerusakan lingkungan di wilayah hulu berpotensi menimbulkan sedimentasi dan menurunkan kualitas air yang kemudian terbawa menuju kawasan hilir.

Pada sisi ekonomi, keterbatasan infrastruktur transportasi dan fasilitas rantai dingin juga dinilai membuat hasil pertanian masyarakat pegunungan belum optimal memasuki jaringan distribusi yang lebih luas.

Persoalan kedua adalah ketersediaan energi.

Yonas menyebut masih terdapat banyak kawasan Papua Pegunungan yang belum memperoleh pelayanan listrik sepanjang hari. Angka dan cakupan yang disampaikan MMN tersebut merupakan bagian dari paparan organisasi dalam audiensi.

Padahal, kata dia, karakteristik sejumlah sungai dengan arus yang kuat berpotensi dikaji untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).


“Bagaimana kami mau bicara tentang inovasi, wirausaha, teknologi dan ekonomi kreatif berbasis kawasan perairan bagi generasi muda apabila di gunung kami sendiri masih gelap?” katanya.


Yonas menambahkan, pemahaman mengenai kemaritiman juga perlu diperluas agar tidak hanya identik dengan masyarakat yang tinggal di pesisir.


“Pemuda gunung jangan sampai merasa maritim hanya milik anak pantai. Air dari gunung juga menjadi bagian dari kehidupan kawasan hilir dan laut,” ujarnya.


Usulkan Perlindungan Hulu dan Infrastruktur Energi

Dalam forum itu, DPD MMN Papua Pegunungan menyampaikan dua usulan utama kepada Wakil Ketua MPR RI dan peserta audiensi.

Baca Juga :  PPDI sebagai Organisasi Perangkat Desa Harus Bersatu dan Profesional, Tidak Terpecah oleh Dualisme Organisasi

Pertama, MMN mendorong agar perlindungan kawasan hulu sungai memperoleh perhatian dalam agenda pembangunan maritim, termasuk Sungai Baliem, Brazza serta berbagai aliran sungai lain di Papua Pegunungan.

Menurut mereka, perlindungan hulu diperlukan untuk menjaga keberlanjutan sumber air sekaligus memperkuat keterhubungan ekologi antara pegunungan, sungai, pesisir dan laut.

Kedua, organisasi tersebut mengusulkan pengembangan energi mikrohidro dan sistem rantai dingin gunung–laut, termasuk gagasan pembangunan PLTMH komunal berbasis masyarakat adat serta fasilitas penyimpanan dingin bertenaga surya di Wamena.

Fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung penyimpanan komoditas pertanian sebelum didistribusikan ke wilayah lain sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pegunungan.

Menurut keterangan MMN Papua Pegunungan, gagasan yang disampaikan dalam audiensi diterima sebagai bagian dari aspirasi pemuda dalam pembahasan pembangunan maritim yang berkelanjutan dan inklusif.

Forum tersebut juga menjadi ruang bertemunya berbagai pandangan generasi muda mengenai pengelolaan sumber daya perairan, perlindungan lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Bagi MMN Papua Pegunungan, pembangunan maritim nasional pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang pelabuhan, kapal maupun wilayah pesisir, tetapi juga tentang menjaga sumber air sejak dari hulu.


“Menjaga laut berarti juga menjaga sungai, dan menjaga sungai harus dimulai dari gunung tempat air itu berasal,” demikian gagasan yang dibawa DPD MMN Papua Pegunungan dalam forum tersebut.


(Yonas/Red)

banner 468x60
Example 120x600