KALIMANTAN BARAT | AFJ-News.Online — Duka atas meninggalnya Aris Sanda, sopir angkutan yang selama bertahun-tahun melayani jalur Wamena menuju wilayah Nduga, Papua Pegunungan, turut mendapat perhatian jajaran HMNI di Kalimantan Barat.
Aris Sanda dilaporkan meninggal setelah menjadi korban kekerasan bersenjata di kawasan Danau Habema, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Berdasarkan keterangan Koops TNI Habema yang diberitakan sejumlah media, Aris ditemukan meninggal bersama kendaraan yang dikemudikannya dalam kondisi terbakar pada Rabu (16/9/2026), setelah sebelumnya melakukan perjalanan dari Wamena menuju Mbua. TNI mengidentifikasi kelompok yang diduga terlibat sebagai OPM Kodap III Ndugama.
Aris diketahui telah sekitar 13 tahun bekerja sebagai pengemudi angkutan di wilayah pegunungan Papua, membawa penumpang dan berbagai kebutuhan logistik masyarakat di jalur Jayawijaya, Nduga dan sekitarnya.
Sejumlah masyarakat dari tiga distrik di Kabupaten Nduga juga menyampaikan duka dan menyerukan agar para sopir yang melayani kebutuhan masyarakat tidak menjadi sasaran kekerasan. Bagi warga, keberadaan para pengemudi memiliki peranan penting dalam distribusi bahan makanan, kebutuhan sehari-hari serta mobilitas masyarakat di wilayah pegunungan.
HMNI Sampaikan Belasungkawa
Menanggapi peristiwa tersebut, jajaran HMNI Kalimantan Barat menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga Aris Sanda.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP HMNI, Ike Megasari, juga menyampaikan bahwa peristiwa tersebut menjadi duka kemanusiaan yang dirasakan tidak hanya oleh keluarga korban, tetapi juga masyarakat yang selama ini mengenal dan merasakan jasa Aris dalam aktivitas transportasi di wilayah pegunungan.
HMNI menyerukan agar warga sipil yang menjalankan pekerjaan sehari-hari—termasuk sopir, petani, nelayan, tenaga pendidikan maupun masyarakat lainnya—tidak dijadikan sasaran dalam konflik ataupun kekerasan.
“Stop sudah, jangan sembarang tembak sopir. Sopir itu bukan musuh. Dia tidak bawa senjata. Dia bawa kehidupan,” demikian salah satu pesan yang disampaikan dalam pernyataan HMNI, menggemakan aspirasi warga Nduga.
Menurut HMNI, keberadaan pengemudi angkutan di wilayah pegunungan memiliki arti penting karena menjadi penghubung distribusi kebutuhan pokok, transportasi masyarakat, hingga berbagai kebutuhan pelayanan sosial.
Serukan Persaudaraan dan Perlindungan Warga Sipil
Jajaran HMNI Kalimantan Barat juga mengajak seluruh pihak menghormati keberagaman suku, budaya dan latar belakang masyarakat yang hidup serta bekerja di Tanah Papua.
Menurut mereka, siapa pun yang datang dan bekerja dengan baik serta menghormati masyarakat setempat selayaknya memperoleh rasa aman yang sama.
HMNI menilai setiap perbedaan pandangan maupun aspirasi politik harus disikapi melalui jalan yang tidak mengorbankan warga sipil.
“Perbedaan apa pun jangan sampai membuat masyarakat yang tidak terlibat menjadi korban. Kami berharap persoalan di Papua dapat menemukan jalan penyelesaian yang mengedepankan kemanusiaan, rasa aman dan perdamaian,” demikian pernyataan jajaran HMNI Kalimantan Barat.
HMNI juga berharap aktivitas masyarakat di jalur Wamena–Nduga dapat berlangsung aman sehingga distribusi kebutuhan pokok, pendidikan, pelayanan masyarakat dan aktivitas ekonomi tidak terganggu.
“Hidup Hanya Sementara, Jangan Biarkan Kebencian Menguasai Hati”
Dalam pernyataan dukanya, HMNI menyampaikan pesan agar tragedi tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai kemanusiaan di tengah berbagai perbedaan.
“Hidup hanya sementara. Jangan biarkan kebencian menguasai hati. Mari jaga kemanusiaan, karena setiap nyawa memiliki keluarga yang menunggu mereka pulang.”
HMNI mendoakan keluarga Aris Sanda diberikan kekuatan dan ketabahan serta berharap kekerasan terhadap warga sipil tidak kembali terjadi.
“Doa kami untuk Papua. Semoga masyarakat dapat hidup aman, anak-anak dapat bersekolah dengan tenang, masyarakat dapat mencari nafkah tanpa rasa takut, dan perdamaian terus mendapat tempat di hati kita semua.”
(Hayati)

















