SUBULUSSALAM | AFJ-News.Online — Bagi sebuah rumah sakit, akreditasi bukan sekadar sertifikat yang kemudian dipajang di dinding. Di balik proses tersebut terdapat penilaian terhadap bagaimana pasien dilayani, bagaimana keselamatan dijaga, bagaimana tenaga kesehatan bekerja mengikuti prosedur, hingga bagaimana manajemen rumah sakit memastikan setiap pelayanan dapat dipertanggungjawabkan.
Semangat itulah yang kini menyertai RSUD H. Merah Sakti Kota Subulussalam, Aceh, saat memasuki rangkaian survei akreditasi oleh Tim Surveyor Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), yang berlangsung pada 29 dan 30 September hingga 1 Oktober 2026.
Pertemuan penyambutan Tim Surveyor KARS menjadi pembuka dari rangkaian penilaian tersebut.
Namun bagi jajaran rumah sakit, agenda ini bukan semata-mata kegiatan seremonial menyambut kedatangan tim penilai. Survei menjadi momentum untuk melihat lebih jauh apakah sistem pelayanan yang dibangun selama ini benar-benar berjalan sebagaimana yang seharusnya dan memberi rasa aman kepada masyarakat yang datang mencari pertolongan medis.
KARS sendiri menempatkan peningkatan mutu asuhan dan keselamatan pasien sebagai bagian penting dari persyaratan rumah sakit yang mengikuti proses akreditasi.
Pemimpin Daerah Hadir Beri Dukungan
Rangkaian kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Subulussalam H. Rasid Bancin, didampingi Wakil Wali Kota Nasir, S.E., serta Sekretaris Daerah Kota Subulussalam Asrul Sani.
Direktur RSUD H. Merah Sakti, dr. Dewi Sartika Pinem, bersama jajaran manajemen rumah sakit dan tenaga kesehatan turut mengikuti kegiatan tersebut.
Kehadiran unsur pimpinan Pemerintah Kota Subulussalam memberikan pesan bahwa peningkatan mutu rumah sakit daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab direktur ataupun tenaga medis.
Rumah sakit daerah merupakan salah satu institusi pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan paling mendasar masyarakat: kesehatan.
Karena itu, hasil dari proses akreditasi nantinya tidak semestinya hanya dibaca sebagai keberhasilan administratif sebuah institusi, tetapi harus dapat diterjemahkan menjadi perubahan yang dirasakan pasien ketika datang berobat.
Mulai dari ketepatan pelayanan, kebersihan, keamanan pemberian obat, penanganan kegawatdaruratan, kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan informasi hingga komunikasi yang manusiawi kepada pasien dan keluarganya.
Akreditasi Adalah Proses Menguji Sistem
Selama beberapa hari pelaksanaan survei, kesiapan rumah sakit akan berhadapan dengan proses penilaian.
Di sinilah seluruh dokumen, prosedur dan sistem kerja yang telah dipersiapkan mendapatkan ujian sebenarnya.
Sebab pelayanan rumah sakit tidak cukup hanya memiliki standar yang tertulis di atas kertas.
Standar tersebut harus hadir dalam praktik sehari-hari.
Ketika seorang pasien masuk ke instalasi gawat darurat, sistem harus bekerja.
Ketika obat diberikan, mekanisme keselamatan harus berjalan.
Ketika pasien berpindah dari satu unit ke unit lainnya, informasi medis tidak boleh terputus.
Begitu pula ketika muncul risiko ataupun kejadian yang tidak diharapkan, rumah sakit dituntut memiliki mekanisme evaluasi dan perbaikan.
Karena itu, survei akreditasi dapat menjadi semacam cermin bagi sebuah rumah sakit untuk melihat sisi mana yang telah berjalan baik dan bagian mana yang masih harus diperbaiki.
Bukan Hanya Tugas Dokter dan Perawat
Akreditasi juga bukan pekerjaan satu atau dua unit.
Dari tenaga medis, keperawatan, farmasi, laboratorium, administrasi, rekam medis, manajemen, kebersihan, keamanan hingga pelayanan pendukung lainnya mempunyai bagian masing-masing dalam membangun mutu pelayanan.
Kesalahan kecil dalam suatu sistem pelayanan kesehatan bahkan dapat membawa konsekuensi besar bagi pasien.
Karena itulah kesiapan rumah sakit tidak hanya dilihat dari megahnya gedung maupun lengkapnya fasilitas, tetapi juga dari konsistensi orang-orang yang bekerja di dalamnya menjalankan prosedur.
Bagi jajaran RSUD H. Merah Sakti, rangkaian survei ini sekaligus menjadi momentum untuk membangun budaya kerja yang semakin disiplin dan terukur.
Bukan disiplin yang hanya muncul ketika surveyor datang.
Namun disiplin yang tetap berlangsung ketika proses akreditasi telah selesai dan rumah sakit kembali menjalani rutinitas sehari-hari.
Masyarakat Menjadi Tujuan Akhir
Pada akhirnya, ukuran terpenting sebuah rumah sakit bukan hanya predikat yang diperoleh setelah proses penilaian.
Masyarakatlah yang akan menjadi pihak pertama yang merasakan apakah mutu pelayanan benar-benar berubah.
Pasien yang datang dalam keadaan sakit tidak memahami rumitnya dokumen akreditasi.
Mereka datang dengan kebutuhan yang jauh lebih sederhana: ingin ditangani dengan cepat, benar, aman dan manusiawi.
Keluarga pasien juga membutuhkan kepastian informasi.
Mereka ingin mengetahui kondisi anggota keluarganya, memahami tindakan medis yang dilakukan, serta mendapatkan pelayanan tanpa harus menghadapi prosedur yang membingungkan.
Karena itu, keberhasilan proses akreditasi baru memperoleh makna apabila standar yang dinilai dapat hidup di ruang pelayanan dan dirasakan oleh masyarakat.
Momentum Berbenah, Bukan Berhenti Setelah Penilaian
Dukungan Pemerintah Kota Subulussalam terhadap proses akreditasi diharapkan tidak berhenti setelah Tim Surveyor KARS menyelesaikan tugasnya.
Apa pun hasil yang nantinya diperoleh, evaluasi dari proses tersebut dapat menjadi bahan untuk memperkuat pelayanan RSUD H. Merah Sakti ke depan.
Apabila masih ditemukan kekurangan, maka kekurangan itulah yang harus diperbaiki.
Apabila sudah terdapat sistem yang dinilai baik, maka kualitas tersebut harus dipertahankan dan terus dikembangkan.
Sebab rumah sakit sesungguhnya tidak sedang berlomba dengan rumah sakit lain.
Ia sedang berlomba dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang dan tuntutan pelayanan kesehatan yang semakin tinggi.
Akreditasi Bukan Garis Akhir
Selama tiga hari proses survei, perhatian memang tertuju kepada penilaian Tim KARS.
Namun pekerjaan sebenarnya justru akan terus berlangsung setelah para surveyor meninggalkan rumah sakit.
Menjaga mutu pelayanan merupakan pekerjaan setiap hari.
Tidak mengenal tanggal survei.
Tidak mengenal kunjungan penilai.
Dan tidak boleh berubah hanya karena tidak ada lagi orang yang melakukan pemeriksaan.
Itulah tantangan yang sesungguhnya bagi RSUD H. Merah Sakti.
Akreditasi boleh menghasilkan sebuah predikat, tetapi kepercayaan masyarakat hanya dapat dibangun melalui pelayanan yang terus-menerus dijaga.
Karena bagi pasien, kualitas rumah sakit bukan pertama-tama terlihat dari sertifikat yang tergantung di dinding.
Kualitas itu dirasakan ketika mereka datang dalam keadaan membutuhkan pertolongan, kemudian dilayani dengan cepat, aman, profesional dan tetap diperlakukan sebagai manusia.
(IP)
AFJ-News.Online

















