Scroll untuk baca artikel
banner 468x60
Example floating
Example floating
banner 468x60
Regional

Belajar Mengendalikan Diri, Menghargai Orang Lain, dan Berdamai Dengan Kehidupan

Avatar photo
37119
×

Belajar Mengendalikan Diri, Menghargai Orang Lain, dan Berdamai Dengan Kehidupan

Sebarkan artikel ini
MENJADI PRIBADI YANG BIJAK DAN DEWASA

EDUKASI
Oleh:Albert Hutagaol
Menjadi dewasa ternyata tidak selalu ditentukan oleh bertambahnya usia. Seseorang bisa saja telah melewati banyak tahun dalam hidupnya, namun masih mudah tersulut emosi, sulit menerima perbedaan, bahkan merasa harus selalu memenangkan setiap perdebatan.

Sebaliknya, ada orang yang mungkin usianya lebih muda, tetapi mampu berbicara dengan tenang, menghargai orang lain, mengakui kesalahan, serta memahami kapan harus menjelaskan dan kapan sebaiknya diam.

Di situlah letak kedewasaan yang sesungguhnya.

Pribadi yang bijak bukanlah orang yang selalu benar. Ia justru menyadari bahwa dirinya pun dapat keliru. Karena itu, ia tidak malu meminta maaf, tidak merasa rendah ketika menerima nasihat, dan tidak kehilangan harga diri hanya karena mengakui kekurangan.

Kedewasaan juga terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain ketika sedang kecewa. Mudah bersikap baik kepada orang yang menyenangkan hati kita. Namun, karakter seseorang justru lebih terlihat ketika ia sedang marah, berbeda pendapat, atau merasa disakiti.

Orang yang dewasa tidak menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Ia memahami bahwa kata-kata yang keluar dalam hitungan detik dapat meninggalkan luka selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  Bupati Tangerang Bersama Forkopimda Monitoring Pelaksanaan Ibadah Natal di Pasar Kemis

Karena itu, sebelum berbicara ia belajar mempertimbangkan: apakah perkataan tersebut benar, perlu disampaikan, dan dapat disampaikan dengan cara yang baik?

Menjadi bijak juga berarti memahami bahwa kita tidak harus menanggapi semua hal.


Tidak semua kritik harus dibalas.
Tidak semua sindiran harus dijawab.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Dan tidak semua orang harus dipaksa memahami diri kita.


Ada saatnya menjelaskan merupakan bentuk tanggung jawab. Namun ada pula saatnya diam menjadi pilihan yang jauh lebih bermartabat.

Orang dewasa tidak sibuk membuktikan dirinya kepada semua orang. Ia lebih sibuk memperbaiki dirinya sendiri.

Dalam perjalanan hidup, kita akan bertemu orang yang menyukai kita dan orang yang tidak menyukai kita. Ada yang memahami perjuangan kita, ada pula yang menilai hanya dari apa yang terlihat di permukaan.

Kita tidak mempunyai kemampuan mengendalikan seluruh penilaian manusia.

Baca Juga :  Pelantikan Toga Aritonang Dewan Pimpinan Cabang Siantar dan Sekitarnya Menjalin Rasa Kekeluargaan Yang Tiada Batasnya

Yang dapat kita kendalikan adalah sikap, perkataan, keputusan, dan cara kita memperlakukan orang lain.

Pribadi yang matang juga belajar membedakan antara harga diri dan ego.

Harga diri membuat seseorang menjaga kehormatannya tanpa merendahkan orang lain. Sementara ego sering membuat seseorang sulit meminta maaf, sulit menerima kenyataan, dan merasa kemenangan pribadi jauh lebih penting daripada menjaga hubungan.

Terkadang satu kalimat sederhana, “Saya salah, saya minta maaf,” justru menunjukkan kebesaran seseorang.

Begitu pula dengan memaafkan.

Memaafkan bukan berarti membenarkan semua perbuatan yang pernah menyakiti kita. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan luka masa lalu terus menguasai kehidupan hari ini.

Kita tetap boleh menjaga jarak. Kita tetap boleh mengambil pelajaran. Kita tetap boleh menentukan batas.

Namun jangan sampai kesalahan seseorang membuat hati kita dipenuhi kebencian sepanjang hidup.

Pada akhirnya, menjadi pribadi yang bijak dan dewasa adalah proses panjang. Tidak ada manusia yang selalu berhasil mengendalikan dirinya. Sesekali kita marah, kecewa, salah mengambil keputusan, atau mengucapkan sesuatu yang kemudian kita sesali.

Baca Juga :  Warga Kecewa, Karena PT, Godrayns Selaku Vendor PLN, Diduga Lamban Terhadap Pengaduan Konsumen.

Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar.


Belajar mendengar sebelum menilai.
Belajar memahami sebelum menyalahkan.
Belajar meminta maaf ketika keliru.
Belajar memaafkan tanpa kehilangan batas.
Dan belajar menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan harus menjadi milik kita.


Sebab semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami bahwa kehidupan bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang mampu tetap menjaga hati dan pikirannya ketika keadaan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Catatan Kehidupan

“Kedewasaan bukan ketika kita mampu memenangkan setiap perdebatan, tetapi ketika kita tahu bahwa menjaga hati, ucapan, dan hubungan terkadang jauh lebih berharga daripada sekadar membuktikan bahwa kita benar.”

Menjadi bijak bukan berarti menjadi lemah.
Menjadi tenang bukan berarti takut.
Dan memilih diam bukan berarti kalah.

Ada kemenangan yang tidak membutuhkan tepuk tangan—yaitu ketika kita berhasil mengalahkan ego di dalam diri sendiri. 🙏❤️

banner 468x60
Example 120x600