Scroll untuk baca artikel
banner 468x60
Example floating
Example floating
banner 468x60
Regional

Nimrot Siahaan, S.H., M.H.: Indonesia Membutuhkan Ketahanan Pangan dan Pendidikan yang Melahirkan Tenaga Ahli, Bukan Sekadar Teori

Avatar photo
15
×

Nimrot Siahaan, S.H., M.H.: Indonesia Membutuhkan Ketahanan Pangan dan Pendidikan yang Melahirkan Tenaga Ahli, Bukan Sekadar Teori

Sebarkan artikel ini

LABUHANBATU | AFJ-News.Online — Membangun sebuah bangsa yang kuat tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam maupun tingginya tingkat pendidikan formal. Diperlukan kemampuan nyata untuk mengolah potensi yang tersedia menjadi kekuatan ekonomi, sekaligus menghadirkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan keahlian sesuai kebutuhan masyarakat.

Pandangan tersebut menjadi pokok pemikiran Nimrot Siahaan, S.H., M.H., yang menyoroti pentingnya penguatan ketahanan pangan serta perubahan orientasi pendidikan agar tidak berhenti pada penguasaan teori.

Menurut pandangannya, masyarakat Indonesia membutuhkan ketahanan pangan yang kokoh dan sistem pendidikan yang lebih mengutamakan kemampuan praktik atau keterampilan (skill), sehingga mampu melahirkan tenaga-tenaga ahli di berbagai bidang.

Gagasan ini menempatkan dua persoalan penting dalam satu kerangka pembangunan, yakni bagaimana bangsa Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pangannya dan bagaimana dunia pendidikan mempersiapkan sumber daya manusia yang sanggup menghadapi tantangan kehidupan nyata.

Sebab, pendidikan dan ketahanan pangan bukanlah dua persoalan yang berdiri sendiri. Keduanya dapat saling mendukung apabila pengetahuan yang diperoleh melalui proses pendidikan benar-benar mampu diterapkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.


Pendidikan Tidak Cukup Hanya Menghasilkan Ijazah


Dalam perkembangan dunia pendidikan, keberhasilan seseorang kerap dilihat dari jenjang pendidikan yang berhasil diselesaikannya.

Gelar akademik, ijazah, dan berbagai bentuk pengakuan pendidikan tentu memiliki nilai penting. Namun, ukuran keberhasilan pendidikan tidak semestinya berhenti pada pencapaian administratif tersebut.

Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi kemampuan nyata.

Seorang lulusan pertanian, misalnya, diharapkan bukan hanya memahami konsep pengelolaan lahan, tetapi juga memiliki keterampilan untuk menerapkannya.

Begitu pula lulusan bidang teknik, peternakan, perikanan, teknologi, maupun berbagai disiplin ilmu lainnya. Penguasaan teori akan semakin bernilai ketika disertai pengalaman praktik, kemampuan menyelesaikan persoalan, dan keterampilan menghasilkan karya.

Baca Juga :  Koalisi Rakyat Bersatu Melawan Akan Bergerak Melakukan Open Donasi Memperjuangkan Hak Rakyat

Dalam konteks inilah pemikiran Nimrot Siahaan mengenai pendidikan berbasis keahlian menjadi relevan untuk dibahas.

Pendidikan idealnya tidak memperhadapkan teori dengan praktik, melainkan mempertemukan keduanya.

Teori memberikan landasan berpikir, sementara praktik membentuk kemampuan untuk menguji, mengembangkan, dan menerapkan pengetahuan tersebut.

Apabila keduanya berjalan seimbang, lembaga pendidikan memiliki kesempatan lebih besar untuk mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memahami suatu bidang keilmuan, tetapi juga mampu bekerja dan berkontribusi melalui keahliannya.


Ketahanan Pangan Membutuhkan Sumber Daya Manusia Terampil


Pada sisi lain, gagasan mengenai ketahanan pangan juga tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia.

Ketahanan pangan membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan lahan dan kegiatan produksi. Pengelolaan yang baik juga memerlukan pengetahuan mengenai pertanian, peternakan, pengolahan hasil, distribusi, teknologi, serta pengembangan usaha.

Artinya, upaya memperkuat sektor pangan dapat menjadi salah satu ruang penerapan pendidikan berbasis keterampilan.

Bayangkan apabila generasi muda yang mempelajari ilmu pertanian memiliki kesempatan untuk langsung memahami pengolahan tanah, pembibitan, perawatan tanaman, hingga pengelolaan hasil panen.

Demikian pula mereka yang menekuni peternakan dapat memperoleh pengalaman dalam pemeliharaan ternak, pengelolaan pakan, serta penerapan teknologi yang sesuai.

Pengetahuan tersebut tidak hanya memperkaya pengalaman belajar, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk membuka peluang usaha dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi daerah.

Inilah salah satu hubungan penting antara gagasan ketahanan pangan dan pendidikan praktis.

Penguatan sektor pangan memerlukan tenaga yang memahami pekerjaannya, sementara dunia pendidikan membutuhkan ruang penerapan agar pengetahuan yang diajarkan tidak terputus dari kenyataan.


Potensi Daerah Harus Diikuti Pengembangan Keahlian

Baca Juga :  Hadiri Apel HUT Ke-14 RSUD Balaraja, Bupati Tangerang Minta Seluruh Jajaran RSUD Terus Tingkatkan Layanan Kesehatan Terbaik

Kabupaten Labuhanbatu dan berbagai daerah lain di Indonesia memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan keterampilan.

Dalam konteks pembangunan daerah, kebutuhan terhadap tenaga terampil dapat menjadi perhatian bersama pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat.

Sekolah maupun lembaga pelatihan dapat mengambil peran dengan memperkuat pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik.

Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah memperluas kegiatan praktik melalui kerja sama dengan pelaku usaha, kelompok tani, peternak, serta berbagai sektor produktif lainnya.

Melalui pendekatan tersebut, proses pendidikan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami hubungan antara pengetahuan yang diperoleh di ruang kelas dan penerapannya di lapangan.

Pengembangan keterampilan juga tidak harus dibatasi pada profesi tertentu.

Bangsa Indonesia membutuhkan beragam keahlian, mulai dari tenaga kesehatan, pendidik, teknisi, ahli pertanian, ahli peternakan, pelaku industri, hingga tenaga profesional dalam berbagai bidang lainnya.

Dengan demikian, orientasi pendidikan bukan hanya mempersiapkan seseorang untuk mencari pekerjaan, tetapi juga membangun kemampuan untuk menciptakan karya, mengembangkan usaha, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.


Melahirkan Generasi yang Mampu Berdiri di Atas Kemampuannya Sendiri


Pemikiran Nimrot Siahaan mengenai pendidikan dan ketahanan pangan juga membuka ruang refleksi tentang arah pembangunan generasi muda.

Kemampuan akademik tetap merupakan bagian penting dari pendidikan. Namun, keterampilan hidup, kedisiplinan, kreativitas, serta kemampuan menghadapi persoalan nyata juga memerlukan perhatian.

Generasi muda perlu mendapatkan kesempatan untuk mengenali potensi dirinya dan mengembangkan kemampuan sesuai bidang yang diminati.

Tidak semua orang harus memilih jalan profesi yang sama.

Ada yang memiliki kemampuan dalam bidang akademik, ada yang menekuni teknologi, ada pula yang menemukan peluang melalui pertanian, peternakan, perdagangan, maupun keterampilan lainnya.

Baca Juga :  Lumbung Informasi Borneo Act Sweep Minta Pihak Terkait sigap, Atas Kelangkaan Elpiji.

Keberagaman kemampuan tersebut merupakan modal yang dapat dikembangkan apabila tersedia pendidikan dan pelatihan yang sesuai.

Karena itu, pendidikan berbasis keterampilan hendaknya dipahami sebagai upaya memperluas kesempatan bagi setiap individu untuk mengembangkan potensi, bukan sebagai pengurangan terhadap pentingnya pendidikan akademik.

Keduanya justru dapat saling melengkapi.


Dari Pemikiran Menuju Langkah Nyata


Gagasan mengenai ketahanan pangan dan pendidikan berbasis keterampilan tentu memerlukan pembahasan lebih jauh agar dapat diterjemahkan ke dalam program yang terukur.

Dukungan sarana praktik, tenaga pendidik yang kompeten, kemitraan dengan dunia kerja, dan kesempatan pengembangan usaha merupakan sejumlah aspek yang dapat menjadi perhatian.

Di bidang pangan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kondisi masing-masing daerah.

Dengan demikian, keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga dari manfaat yang dapat dihasilkan secara berkelanjutan.

Pandangan yang disampaikan Nimrot Siahaan, S.H., M.H., pada akhirnya mengingatkan pentingnya mempertemukan dua kebutuhan mendasar bangsa: kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dan kemampuan menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian.

Keduanya dapat menjadi bagian dari fondasi pembangunan apabila memperoleh perhatian dan diwujudkan melalui langkah-langkah yang nyata.

Sebab, ilmu pengetahuan akan semakin bermakna ketika dapat diterapkan, keterampilan akan semakin bernilai ketika memberikan manfaat, dan ketahanan pangan akan semakin kuat ketika didukung oleh manusia-manusia yang mampu mengelolanya.

Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mengetahui apa yang harus dikerjakan, tetapi juga generasi yang memiliki kemampuan untuk mengerjakannya.

Pendidikan memberikan pengetahuan, keterampilan menghadirkan kemampuan, dan keduanya dapat menjadi kekuatan untuk membangun kemandirian bangsa.

Redaksi AFJ-News.Online
Narasumber: Nimrot Siahaan,S.H,M.H

banner 468x60
Example 120x600