PAPUA PEGUNUNGAN | AFJ-News.Online — Dewan Pimpinan Daerah Maritim Muda Nusantara (DPD MMN) Papua Pegunungan mencanangkan Gerakan Perlindungan Sungai untuk Ketahanan Pangan dan Keberlangsungan Hidup sebagai salah satu program prioritas periode 2026–2029.
Program tersebut disampaikan Ketua DPD MMN Papua Pegunungan, Yonas Marian, setelah menerima mandat kepemimpinan dari Ketua Umum Maritim Muda Nusantara, Kaisar Akhir, S.I.K., M.Sc., M.B.A., dalam rangkaian Sailing Camp, Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), dan Pelantikan DPD se-Indonesia di Batam pada 15–19 September 2026.
Bagi Yonas, isu sungai memiliki arti strategis bagi masyarakat Papua Pegunungan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan air, pertanian, mobilitas antarwilayah, hingga keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Sungai Disebut sebagai Urat Nadi Kehidupan
Yonas mengatakan sungai di Papua Pegunungan tidak hanya dipandang sebagai sumber air, tetapi juga bagian penting dari sistem kehidupan masyarakat.
“Di Papua Pegunungan, sungai adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Sungai Baliem dan ratusan sungai kecil lainnya menjadi sumber air minum, kebutuhan pertanian, aktivitas rumah tangga, hingga jalur yang mendukung konektivitas antarwilayah,” ujar Yonas.
Ia menilai kerusakan sungai berpotensi memberikan dampak berantai terhadap sektor pangan dan kehidupan masyarakat.
Menurut Yonas, sejumlah persoalan seperti sedimentasi, sampah, kerusakan kawasan hulu, serta kebakaran hutan perlu mendapat perhatian serius karena dapat memengaruhi kualitas maupun ketersediaan air.
Ia juga menyoroti kondisi di kawasan Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, yang menurutnya membutuhkan perhatian khusus dalam menjaga pasokan air untuk lahan pertanian.
“Bicara maritim dari wilayah pegunungan berarti juga bicara soal air, pertanian, dan konektivitas. Kalau sumber air terganggu, pertanian ikut terdampak. Pada akhirnya, persoalan itu juga dapat memengaruhi harga dan distribusi pangan ke wilayah lain seperti Yahukimo, Nduga, dan Tolikara,” katanya.
Masuk dalam Empat Pilar Program Utama
Gerakan Perlindungan Sungai tersebut akan dijalankan melalui empat bidang utama program DPD MMN Papua Pegunungan periode 2026–2029.
Pada bidang organisasi, data, dan advokasi, MMN Papua Pegunungan akan mendorong pendataan kondisi daerah aliran sungai di delapan kabupaten, pemetaan mata air, serta advokasi kebijakan terkait perlindungan sungai dan irigasi pertanian.
Pada bidang sosial, pendidikan, dan kebudayaan, program diarahkan pada edukasi masyarakat dan pelajar mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai, tidak membuang sampah sembarangan, serta melestarikan kawasan hutan di bagian hulu.
Sementara melalui bidang konservasi, olahraga, dan pariwisata, MMN berencana melaksanakan aksi bersih sungai, penanaman pohon di sempadan sungai, serta mendorong perlindungan danau sebagai salah satu sumber penyimpanan air alami.
Adapun pada bidang kewirausahaan dan inovasi teknologi, organisasi akan mendorong penggunaan teknologi irigasi hemat air serta pengelolaan sampah yang memiliki potensi nilai ekonomi bagi generasi muda.
DPP MMN Dukung Gerakan
Ketua Umum DPP Maritim Muda Nusantara, Kaisar Akhir, menyatakan dukungan terhadap program tersebut.
Menurutnya, upaya menjaga sungai di wilayah pegunungan tetap memiliki keterkaitan dengan agenda kemaritiman secara lebih luas karena sungai merupakan bagian dari siklus air yang pada akhirnya terhubung dengan kawasan pesisir dan laut.
“Menjaga sungai di Papua Pegunungan sama pentingnya dengan menjaga laut. Karena air dari wilayah hulu pada akhirnya akan terhubung dengan sistem perairan yang lebih luas. Kalau kita gagal menjaga sungai di wilayah hulu, dampaknya juga dapat dirasakan hingga ke wilayah hilir,” ujar Kaisar.
Yonas menambahkan, program perlindungan sungai akan dikembangkan secara bertahap melalui konsolidasi organisasi dan kerja sama dengan pemerintah daerah, masyarakat, pemuda, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap lingkungan.
Ia berharap gerakan tersebut tidak berhenti pada kampanye, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat di delapan kabupaten di Papua Pegunungan.
(Yonas)

















