SURABAYA | AFJ-News.Online — Keberadaan sebuah pelabuhan tidak hanya berbicara tentang kapal, petikemas dan arus barang. Di sekeliling aktivitas besar tersebut, terdapat masyarakat yang kehidupannya ikut bersentuhan dengan denyut ekonomi kawasan pelabuhan.
Kesadaran itulah yang menjadi salah satu arah penguatan program sosial PT Belawan New Container Terminal (BNCT) melalui keikutsertaannya dalam Pelatihan Creating Shared Value (CSV) & Community Empowerment yang berlangsung di Surabaya pada 23–24 September 2026.
Pelatihan tersebut diikuti seluruh cabang dan anak perusahaan PT Pelindo Terminal Petikemas sebagai bagian dari peningkatan kapasitas pengelola program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Namun bagi BNCT, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang menambah pengetahuan.
Pelatihan itu juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana program sosial perusahaan dapat dirancang agar tidak berhenti pada pemberian bantuan sesaat, melainkan mampu membantu masyarakat membangun kemampuan dan kemandirian dalam jangka panjang.
Pendekatan Creating Shared Value menjadi salah satu konsep yang didalami.
Melalui pendekatan tersebut, program sosial diarahkan agar mampu mempertemukan kepentingan pengembangan masyarakat dengan keberlanjutan kegiatan perusahaan sehingga tercipta manfaat yang dapat tumbuh bersama.
Bagi BNCT, konsep tersebut dinilai relevan diterapkan di kawasan Belawan yang memiliki karakter kuat sebagai wilayah pesisir sekaligus salah satu simpul aktivitas logistik di Sumatera Utara.
Masyarakat sekitar pelabuhan memiliki potensi ekonomi yang beragam. Karena itu, pendekatan pemberdayaan membutuhkan pemetaan kebutuhan, kemampuan masyarakat serta peluang yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Melalui pelatihan di Surabaya, peserta dibekali pemahaman untuk merancang program yang lebih terstruktur, inklusif dan memiliki ukuran dampak yang jelas.
Program TJSL dengan demikian tidak hanya dinilai dari berapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat penerima manfaat dapat tumbuh lebih mandiri setelah program dijalankan.
Corporate Secretary BNCT, Rizki Affandi Nasution, mengatakan keikutsertaan perusahaan dalam pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kualitas program sosial BNCT.
> “Keikutsertaan BNCT dalam pelatihan Creating Shared Value & Community Empowerment ini merupakan wujud ikhtiar kami untuk menghadirkan program TJSL yang berdampak positif dan mampu menciptakan nilai tambah bersama,” ujar Rizki.
Menurutnya, wawasan yang diperoleh dari pelatihan akan menjadi salah satu bahan dalam merancang program pemberdayaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar Pelabuhan Belawan.
> “Melalui wawasan dan wacana baru yang diperoleh dari pelatihan di Surabaya, BNCT berharap dapat merancang program pemberdayaan masyarakat di sekitar Pelabuhan Belawan secara lebih terarah, harmonis, dan membawa manfaat nyata bagi kemandirian ekonomi lokal,” lanjutnya.
Bagi perusahaan, keberlanjutan operasional dan kesejahteraan masyarakat sekitar bukanlah dua hal yang harus berjalan sendiri-sendiri.
Aktivitas terminal yang berkembang membutuhkan hubungan sosial yang sehat dengan lingkungan di sekitarnya. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang muncul dari keberadaan pelabuhan diharapkan dapat membuka ruang manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Karena itulah konsep pemberdayaan menjadi penting.
Program sosial yang hanya bersifat sesaat dapat membantu menjawab kebutuhan tertentu. Namun program yang dirancang berdasarkan potensi masyarakat berpeluang menciptakan dampak lebih panjang—mulai dari peningkatan kemampuan, terbukanya kesempatan usaha hingga tumbuhnya aktivitas ekonomi lokal.
BNCT juga menempatkan aspek lingkungan sebagai bagian dari arah pengembangan program tersebut.
Kawasan pesisir memiliki tantangan tersendiri, sehingga pemberdayaan masyarakat perlu berjalan seiring dengan kesadaran menjaga lingkungan tempat mereka hidup dan mencari penghidupan.
Melalui sinergi bersama PT Pelindo Terminal Petikemas Group, BNCT berharap penerapan konsep CSV dapat memperkuat hubungan antara operasional pelabuhan, pertumbuhan ekonomi dan kepentingan masyarakat sekitar.
Dengan pendekatan tersebut, tanggung jawab sosial tidak lagi dipandang sekadar sebagai kewajiban perusahaan.
Ia diarahkan menjadi bagian dari proses membangun hubungan jangka panjang—ketika kemajuan perusahaan dapat berjalan beriringan dengan meningkatnya kapasitas dan kemandirian masyarakat.
Dari ruang pelatihan di Surabaya, tantangan berikutnya justru dimulai ketika gagasan tersebut dibawa kembali ke Belawan.
Sebab ukuran terpenting bukan seberapa banyak teori yang dipelajari, melainkan seberapa nyata manfaat yang nantinya dapat dirasakan masyarakat di sekitar pelabuhan.
Bambang Hermanto | AFJ-News.Online

















